The Last Nightmare


Langit gelap tak berujung terbentang di mataku. Mengajakku turut hilang dalam kelamnya. Aku bertanya tanya dimana? Apa? Siapa? Semua pikiranku melayang hingga aku hilang pijakan dan jatuh berteriak entah memanggil siapa.
            Aku terbangun. Dengan wajah penuh keringat dan jantungku masih berdetak keras. Aku masih menggenggap erat tanganku yang juga basah karena keringat. Apa ini yang di maksud mimpi buruk? Tapi aku tak tahu apa apa. Kulihat keluar jendela hari masih malam. Entah kenapa aku tak menyukai ini. Pikiranku seperti terpecah pecah dan ling lung. Mungkin minum segelas air akan memperbaiki kesadaranku.
                                                                        ***
            Pagi ini aku benar benar mengantuk. Mataku tidak mau terpejam sama sekali sedari tadi malam. Mungkin mataku reflek menolak untuk tidur, mungkin dirikku sendiri tidak mau kembali mimpi sesuatu yang aneh.
            “Rani,” aku menoleh suara itu pasti Lia.
            “Hey,” jawabku dengan tampang ngantuk dan kusut.
            “Kenapa? Wajahmu kayak karyawan lembur gitu?” tanyanya. Aku Cuma meringis mendengarnya.
            “Aku nggak bisa bisa tidur tadi malam. Ngantuk banget nih sekarang,” jawabku jujur.
            “Kenapa?” Tanya Lia lagi.
            “Mimpi buruk,” jawabku singkat.
            “Mimpi buruk apa?” tanyanya lagi.
            “Yah, aku lupa,” jawabku jujur, lagi. Aku sendiri heran, padahal gelisah mimpi buruk itu masih tertinggal tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat mimpi apa itu?
                                                            ***
            Kali ini aku mengejar seseorang. Siapa? Kenapa aku mengejarnya? Dan kenapa hatiku sakit? Ku. sentuh pipiku, air mataku jatuh. Tiba tiba kakiku kehilangan kekuatannya. Aku tidak bisa mengejarnya. Siapa? Siapa yang kukejar?  Aku bingung, tapi aku tetap menangis dan kali ini berteriak keras.
            Aku terbangun lagi. Kali ini dengan air mata basah di pipiku. Aku semakin merasa tak nyaman untuk tidur. Kemarin aku sama sekali tidak mengingat apapun. Tapi kali ini dengan jelas aku mengingatnya. Mimpi yang sangat aneh. Bukan hanya karena aku mengingatnya tapi karena aku juga menangis dan masih merasa sedih. Aku hanya mengingat perasaannya tapi aku sama sekali tak tahu apa yang membuatku menangis.
            Aku menatap jam yang masih berdetak keras di senyapnya malam. Sekarang sudah hampir jam empat.  untunglah aku terbangun tidak terlalu cepat. Kalau iya nanti pagi mataku pasti sangat jelek.
                                                                        ***       
            “Jadi kemarin kamu mimpi lagi?” Tanya Lia kepadaku. Aku mengangguk. Wajahku yang kusut tadi pagi membuat Lia bertanya panjang lebar.
            “Lalu kamu ngejar orang sambil teriak? Terus nangis?” Tanya Lia lagi. Aku mengangguk.
            “Nangis beneran?” Tanya Lia lagi tampak meragukanku.
            “Iya lia, aku sendiri juga kaget, bangun pipiku basah banget,” jawabku penuh keyakinan.  Pikirnku bingung. Aku merasa mimpi itu pesan. Mungkin memang aneh. Tapi aku benar benar merasa bahwa itu adalah sebuah pesan. Pesan yang penting.
            “Lalu kamu mau gimana?”  kali ini Lia benar benar khawatir.
            “Yah, nggak gimana gimana tapi aku ngerasa mimpiku belum selesai, mungkin nanti malam aku mimpi lagi,” Jawabku. Yah, memang itu yang kurasakan. Tapi aku bimbang, antara takut dan menanti mimpi itu.
            “Eh, besok kan hari minggu. Kita main yuk?” ajak Lia tiba tiba.
            “Kayaknya nggak bisa deh, “ jawabku sambil meminta maaf.
            “Ya udah, berarti besok aku Cuma keluar rumah buat ngembaliin buku pinjaman,” jawab Lia lagi. Aku tersenyum. Lia memang hobi baca. Dan tiap seminggu sekali dia akan pinjam banyak buku dari perpustakaan kecil didekat rumahnya.
            “Ya udah, jangan lupa telpon aku. Cerita apa aja yang kamu mau,” ucap Lia kepadaku. Aku mengangguk.
            Malam ini aku masih belum mau menutup mata. Rasa rasanya waktu akan berlalu terlalu cepat. Mungkinkah itu pesan? Kenapa aku negitu yakin kalau itu pesan? Kenapa aku begitu yakin kalau mimpi itu masih berlanjut? Aku tidak tahu. Hanya saja ada perasaan tertinggal dari mimpi mimpi itu. Seperti berkata kata padaku. Bercerita. Entah apa.
                                                                        ***
            Aku masih berlari. Jalan yang dulunya tak berujung kini pudar dan terbungkus warna. Riuh dan terbias. Membentuk gores benda hidup yang membangkitkan gelap. Aku menatapnya, jalan itu seperti kukenal sekali. Rumah rumah yang ada disana. aku mengenalnya. Di mana?
            Lagi lagi kakiku melemah dan mataku berair. Aku menangis lagi. Dadaku kembali sakit. Seperti rasa sakit kehilangan. Di ujung jalan itu aku melihatnya. Kali ini benar benar melihatnya. Sosok itu sangat kukenal. Dan seketika itulah aku faham. Bahwa mimpiku merupakan pesan. Aku berteriak, kali ini memanggil namanya. Tapi suaraku tak sampai, seperti tercekat.  Dan kali ini aku jatuh lagi kembali mataku buyar dan ingatanku terpecah.
                                                                        ***
            Aku terbangun. Mimpiku kali bukan menakutkan tapi menghilang. Aku bingung. Aku harus mengingat mimpi itu. Mimpi penting. Karena mimpi itu pesan. Apa yang terjadi jika aku melupakan mimpi itu? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Aku tak mau itu terjadi. Aku tak ingin menangis seperti itu. Berteriak seperti itu. Ataupun merasa sesakit itu. Dalam mimpiku. Hanya mimpi kali ini saja benar benar berbeda. Apa? Apa?
            Suara telpon tiba tiba membuyarkan lamunanku. Siapa?
            “Halo Ran? Kamu mimpi lagi?” Tanya Lia.
            “Iya,” jawabku.
            “Gimana?” tanyanya.
            “Aku lupa,” jawabku lagi.
            “Rani! Ayo sarapan!” suara teriakan ibuku terasa merusak telingaku.
            “Oh, ntar aja deh ceritanya sarapan dulu sana ran. Sampai  besok!” Lia menutup telponnya.
            Aku turun sambil mencoba mengingat ngingat mimpiku tadi malam. Disana ada rumah yang kukenal? Jalan? Tapi siapa yang kupanggil? Ada apa?
            “Rani, kamu makan jangan sambil mikir gitu. Ada apa?” Tanya Mama. Aku Cuma diam. Aku harus mengingat ngingat mimpi itu.
            “Biasanya kalau hari minggu kamu pasti keluar sama Lia. Hari ini nggak?” Tanya Mama lagi.
            “Nggak, hari ini Rani lagi nggak mau keluar. Kata Lia juga hari ini dia mau ngembaliin buku aja,” jawabku. Ngembaliin buku? Di perpustakaan kecil pinggir jalan? Dekat lampu merah? Astaga! Aku segera berlari.
            “Rani kamu mau kemana?” mama berteriak keras. Aku ingat! Aku ingat! Disana Lia akan! Aku masih berlari. Semoga sempat! Aku terus berlari. Perpustakaan yang dituju Lia memang agak jauh. Tapi aku harus mengejarnya. Harus! Karena Lia akan…
            Brak! Suara keras tabrakan terdegar dari arah yang kutuju. Jangan! Jangan!
            “Lia!!!”  aku berteriak keras. Aku tidak sempat. Disana Lia tengah jatuh. Aku menangis. Berteriak. Dadaku sakit. Inikah mimpiku? Inikah? !
                                                                        ***
            Malam itu juga aku menangis sejadi jadinya. Aku menyesal. Kenapa aku tidak mengingat mimpiku? Jika aku ingat, pasti Lia selamat. Pasti.
            Esoknya aku ikut mengantar mayat Lia. Meskipun Lia sempat dilarikan ke rumah sakit ternyata Lia memang tak bisa diselamatkan. Dia terlalu banyak kehilangan darah. Ketika semua telah kembali aku menatap nisan itu dalam dalam. Tadi malam aku bermimpi lagi. Dan aku mengingatnya. Lia tersenyum samar samar sambil berkata,
            “Inilah yang seharusnya terjadi,”.
            Bukan aku yang salah. Bukan pula mimpiku yang salah. Kali ini aku harus mencoba menerima. Bahwa itulah yang seharusnya terjadi.
                                                                        ***

Comments