Dia yang Menghilang

      


 Jam 12.30 lebih atau kurang, dibawah terik matahari ketika aku berjalan pulang menyusuri padatnya jalanan. Dimana? Aku berada di depan PTS di Malang untuk menghadiri wisuda kakakku tepatnya ketika acara selesai dan aku kembali pulang. Iya, aku tengah menyusuri jalanan padat manusia dan ketika mata ini tidak fokus kepada siapa-pun hanya berharap segera sampai ke tempat motor berada aku melihatnya dari belakang. Kata orang kita tidak akan melupakan cinta pertama, sepertinya itu benar. Atau mungkin karena dia tidak berubah dan aku masih bisa mengenalinya semenjak 6 tahun yang lalu? Atau karena wajahnya terlalu tidak mudah dilupakan karena dulu aku sering memperhatikannya? Yang manapun jawabannya tepat beberapa meter dibelakangnya di tengah jalanan manusia aku menatapnya. Mencuri lihat wajahnya ketika menoleh 90 derajat ke kiri atau ke kanan. Jantungku tidak berdetak kencang, pipiku pun tidak memerah. tapi aku masih melihatnya hingga dia masuk kedalam mobil bersama orang-orang berpakaian batik yang sepertinya keluarganya. Banyak pertanyaan tiba-tiba melayang layang dibenakku. Maaf apakah kamu ***? Apakah kamu mengingatku? Apa kabar? Kenapa kamu ada disini? Apakah kakakmu disini? Atau saudaramu? Hey siapapun yang membaca tulisan ini apakah kalian pernah merasakannya? Atau mungkin aku saja? 

Comments