Tinta Terakhir Kara

March 19, 2011


Apakah bisa kembali menjadi seperti dulu. Menggenggam jari nya yang menyatu dengan jari jariku. Bertaut dan memberikan perasaan hangat yang sangat kurindukan. Sekarang, aku benar benar sudah kehilangannya.
            Entah ini di mulai kapan. Tapi aku sudah terpisah jauh ketika tangan kami hampir tak pernah bertaut lagi. Sejak dia mengenal dunia yang sama sekali tidak ingin kumasuki. Bukannya membenci pilihannya. Tapi aku sangat mengenal dirinya. Dan aku tahu, meski wajah kami memiliki ukiran dan proposi yang sama tapi jiwa kami sesungguhnya berbeda. Tapi dia tetap saja kubutuhkan.
            Malam itu, sudah berkali kali aku tahu dirinya tersenyum senyum sendiri dengan bayangannya di depan cermin. Menyeringai dan terlalu menikmati kehidupannya. Yang bagiku hanya kosong belaka. Tapi mulutku sudah lelah menasehatinya. Lagi pula aku tak tega melihatnya menderita.
            Kini, genap delapan bulan sudah kuhitung sejak perjumpaan pertama kali dirinya dengan barang  yang kusebut “haram” itu. Badannya semakin kurus dan tak terurus. Matanya semakin gelap,  dia sudah sering kehilangan kesadarannya. Mungkin bisa kubilang dia mayat hidup. Tak jauh beda bila kusebut seperti itu.
            Hem, aku belum pernah menyinggung keadaan keluarga kami dan bagaimana kondisinya, bukan?  Aku lupa. Mungkin semua orang yang bisa membedakan aku dan dia akan memanggilku Kara dan dia adalah Kira. Orang yang selalu menjadi cermin nyata di manapun aku berada.  Tak seharusnya aku mengekspos cerita yang sepatutnya tak kukatakan. Tapi aku sudah cukup bersabar agar bisa menutupi semuanya. Dengan  keadaan yang semakin gila, aku sudah tak lagi bisa menaruh kewarasanku untul menjaga nama baik. Apalah itu nama baik!
            Aku hidup dengan keadaan selalu tercukupi malah terlalu tercukupi. Tapi itu semua hanya dari kaca materi, batinku hampa. Ayah ibuku seorang pebisnis sukses. Hingga  terlalu sibuknya mereka  tak tahu bahwa dirinya sendiri sudah digerogoti waktu. Tanpa ada yang tahu ternyata ibuku mengidap kanker kulit yang akut. Dan akhirnya waktupun behenti untuk dirinya. Dia sudah  kembali ke sisi-Nya.
            Itu adalah awal mimpi buruk bagi keluargaku. Ayah menjadi ganas. Dan meluapkan nafsunya dengan memanggil gadis gadis pinggiran yang doyan uang. Aku hanya bisa menatap ayah sendu. Aku tahu, kehilangan ibu adalah pukulan besar baginya. Sampai membuatnya kehilangan keteguhan dalam dirinya, kemudian hancur jatuh ke jurang masalah.
            Aku sendiri pun sungguh kehilangan. Hanya saja aku masih memiliki banyak harapan dan teman untuk berbagi. Bagiku selama aku memiliki Kira hidupku masih belum di ujung tanduk. Tapi apa yang kurasakan tak sama seperti yang dirasakan Kira. Dia menjadi liar. Sejak pertemuannya pertama kali dengan Neo. Seorang lelaki pengecut yang juga telah menjdi penghancur bagi keluargaku.
            Neo selayaknya angin dengan harum manis. Yang membuat Kira mabuk dan selalu saja menginginkan rasa manis itu. Memainkan mainkan Kira kesana kemari semau dirinya. Sedangkan Kira tidak berdaya menghadapi itu semua.
            Suatu ketika kutahu. Neo mengenalkan Kira dengan dunia yang kubenci sepenuhnya. Narkoba.  Barang haram yang tak bisa kupungkiri  batapa aku membencinya. Sudah berkali kali aku mencoba membuang semua barang haram yang ada di kamarnya. Menggantinya dengan permen  lollipop yang dulu sangat disukainya.  Tapi lollipop lollipop itu dibuangnya dengan amukan ke tempat sampah. Kemudian Kira berteriak teriak dan terjatuh. Merangkul dirinya sendiri yang mulai kacau. Berteriak kencang yang memilukan hatiku. Sungguh, apa dia benar benar Kira-ku?
            Malamnya ketika kulihat Kira sudah tertidur tenang aku tersenyum. Mencoba membelainya. Oh, betapa ironis ini semua? 
                                                                                    ******
             Sedangkan aku, mulai melihat titik takdir yang semakin mendekat dan jelas.  Dadaku yang kadang terasa sesak dengan tekanan tekanan yang membuat nafasku terasa terhenti. Badanku yang kian lama kian terasa lemah dan berat. Sampai aku terbatuk batuk mengeluarkan cairan merah pekat. Darah. Yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Waktu sudah mulai berbicara kepadaku kali ini. Mengingatkan, mengisyaratkan, mencoba memberitahu. Bahwa aku tidak boleh hanya menonton babak drama memilukan ini. Aku harus merubah scenario yang tertulis. Menggeser sedikit takdir yang belum terlaksana pada mereka.
            Malam ini kulihat kembali ayahku. Tengah bergumul mesra entah dengan siapa. Aku hanya bisa berdoa di dalam hati. Berharap bahwa ada sedikit kerinduan yang menyisip di dalam kesedihannya. Kerinduan terhadap kebenaran dan juga kerinduan akan mengasuhku dan Kira. Tak pernah ingatkah ia?
            Setelah berharap dan berdoa. Aku melirik kamar Kira. Kulihat dari celah pintu. Tak jauh beda dari yang lalu lalu. Tengah tersenyum seyum memandang  ilusi yang entah apa yang ada di hadapannya. Mataku menatap itu semua miris. Kira tak pernahkah kau mengingatku?
            Dari keadaan kedua orang yang paling kusayangi itu. Aku benar benar harus merubah scenario yang ada. Mengakhiri  babak drama yang sesungguhnya tak layak dimainkan keluargaku. Kuputar otakku. Selama satu jam kupikirkan dalam dalam solusi terbaik yang bisa diberikan otakku. Nihil. Sama sekali tak ada satupun solusi yang mungkin bisa kulakukan. Kenapa? Kenapa disaat kubutuhkan otakku tak mau bekerja semestinya?  Bukankah kalkulus dan pemecahan persoalan persoalan filsafah sudah sering kukerjakan. Tapi kenapa malah untuk memecahkan situasi yang terjadi pada keluargaku begitu sulit? Ah, sialan! Apa yang harus kulakukan?
                                                                                    *****
            Kupandangi rumput yang bergoyang dengan takzimnya. Alam tengah berayun ayun. Menurut yang pernah kudengar mereka tengah berdzikir pada-Nya. Benarkah itu? Menatap semua iu membuatku menjadi lebih tenang. Akhirnya, aku sudah muak dengan kenyataan yang dihadapkan di depanku. Biarlah yang terjadi, terjadi! Mungkin ini sudah takdirku untuk tetap terus menjalani alur yang disiapkan untukku.  Mungkin benar benar hanya sebatas ini saja aku bise berusaha.  Aku memanng tak punya jiwa yang kuat untuk menanggung semua. Sementara aku jua membohongi diriku sendiri. Aku sama sekali tidak punya teman berbagi. Dan sesuatu yang kusebut harapan itu, entah sejak kapan sudah meninggalkan pikiranku.
            Ku tatap mentari yang tengah hangat menyelimutiku dengan cahayanya. Sepertinya indraku begitu merindukan sensasinya. Terlalu lamakah aku terus hidup di dalam kecamuk derita yang menderu? Hingga melupakan semuanya. Mengabaikan segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh indraku.
            Terdengar suara lembut menyapaku dari arah belakang. Kuputar kepalakku. Siapa orang ini? Aku tak mengenalnya. Wajahnya putih bersih dan matanya teduh. Seperti berisi begitu banyak cahaya yang terpantul di atas air. Bibirnya menyunggingkan senyum. Aku mengikutinya tersenyum pula. Lagi lagi otakkku memberikan pertanyaan. Siapa dia?
            “hei, terlihat bête banget ada apa?” tanyanya.
            Kenapa juga langsung tanya tanya? Sok tahu sekali dia.
            “kok diem? Eh maaf nggak ngenalin diri. Aku Reza, kamu?” tanyanya sekali lagi.
            “Kara, panggil aja kayak gitu,” akhirnya aku memnjawab pertanyaannya setelah lama terkejut.
            Reza duduk disampingku. Kemudian menatapku.
            “banyak masalah? Rasanya kok kamu suntuk bin bête gitu?”
            Aku diam. Belum terbiasa membahas semua masalah yang kupunya dengan orang lain. Masih terselip banyak perasaan tidak percaya dan juga aku memang tidak pernah jujur bercerita tentang kehidupan.
            “hei, Kara? Kamu dengerin aku nggak sih?  Atau mau ditemenin bengong? Biar nggak aneh bengong sendirian,” kata Reza yang sepertinya mencoba mencandaiku.
            Aku tersenyum dan tertawa.
            “kenapa disini sendirian?”
            Aku kembali ke lamunanku. Menimbang nimbang apakah aku bisa mempercayainya.
            “halo? Kara? Kenapa dikit dikit diem sih?”
            Ake manatapnya mencoba mencari arti dari matanya. Biasanya mata adalah jendela hati. Mungkin saja itu benar. Dan tak kuragukan bahwa mata Reza sungguh indah. Bukan indah dalam artian indah. Tapi memberikan kesejukan sendiri. Ada apa disana? Hingga aku merasakan kesejukan?
            “Mau ke rumah? Di rumah lagi banyak makanan nih. Umi kemarin barusan pengajian bersama di rumah. Jadi kue sisa masih banyak. Kamu mau?”
            Nah? Sekarang apa lagi?
            “ayo ikut,”
            Lenganku ditariknya menjauh dari taman. Berjalan pelan pelan menuju sebuah rumah di ujung jalan. 
            “ini rumahku, ayo masuk,”
            Aku mencoba diam. Tak mau lagi menuruti tarikan tangannya. Dan sikapku membuatnya menoleh.
            “ayolah, sudah disini masa kamu mau kembali,”
            Reza manrikku lagi. Akupun goyah, dan mengikutinya.
            “Umi, ini Reza bawa teman ,”
            Seorang wanita dengan wajah begitu cantik. Begitu putih seperti Reza dan matanya. Di matanya aku juga menemukan kesejukan. Siapa mereka?
            “Reza? Nak? Kamu tadi dari mana saja? Umi bilang kamu nggak boleh keluar Reza,”
            “Umi sesekali biarkan Reza melakukan apa yang ingin Reza lakukan,”
            Suara Reza tiba tiba berubah. Dalam dan penuh dengan misteri. Membuat  air muka 
 Uminya berubah seketika.
            “Ini Kara, Mi,”  kata Reza.
            Aku pun menunduk dan mencium tangannya. Begitu harum tangannya.  Kemudian tanganku ditarik Reza.  Menuju ruang belakang. Penuh dengan kue seperti yang dikatakan oleh Reza.
            “Ayo, temenin aku makan,” Kata Reza.
            Aku pun mencomot satu kue. Meskipun dalam hati penuh dengan pertanyaan kubiarkan diriku mengikuti alur yang terjadi apa adanya.
                                                                        *****
            Selama tiga hari ini aku mendapat banyak cerita.  Salah  satunya aku merasa beruntug berjumpa dengan Reza. Dia mengenalkanku dengan banyak hal. Terutama mendekatkanku dengan diri-Nya. Sosok kesejukan yang kutemukan di sepasang bola matanya adalah sebuah pertemuan indah. Begitu juga Uminya. Mereka menceritakan banyak hal yang tak kutahu. Cara menyampaikan hasrat dan kata kata kepada-Nya. Menyampaikan untaian maaf maupun syukur. Menyampaikan beribu ribu masalah. Aku tak merasa sendiri lagi.
            Seakan akan semua beban yang terpikul berat dipundakku luruh dan semakin ringan. Aku memiliki tempat dimana aku tidak akan merasa sendiri lagi. Dimana aku merasa tenang dan aman. Di mana seluruh kecamuk yang kurasakan Teresa lebih ringan.
            Reza  tak pernah membuatku merasa kecil. Dia menemaniku di bawah bimbingan Umi Zahra. Air deras yang penuh dengan pemuas dahaga mengalir ke dalam relung batinku yang selama ini kering dan kosong.  Sekarang aku memiliki sinar sinar yang selalu bersemai hangat di dalam hatiku yang kadang beku. Reza dan Umi Zahra.
            Di rumah aku benar benar merubah semuanya. Ku coba menyuruh bi Inah untuk selalu menyetel kajian kajijan Qiro’ah di kala senggang. Memberi  wewangian di ruang tamu seperti mama dahulu. Menyibak tirai tirai yang biasanya tertutup. Membuka semua jendela yang mengeluarkan udara. Dan harapku juga mengeluarkan semua masalah yang selama ini terkepung di dalam rumahku. Menelfon papa setiap hari. Menunggunya di depan rumah di kala malam. Hingga akhirnya tak lagi kutemui papa  dengan seorang gadis pun. Hatiku bersorak syukur.
              Tapi tetap saja waktu terlihat jelas di mataku. Sesak sesak yang sedari dulu kuabaikan semakin menjadi jadi. Darah yang dulu hanya sesekali saja keluar kini semakin sering. Aku hanya pasrah dengan kehendak-Nya. 
                                                                        ****
            Malam ini ada mendung  gelap turun ke mata Umi Zahra dan juga aku. Reza telah kembali kepada-Nya. Selama ini disembunyikan penyakit kronisnya dariku.  Sama sepertiku menyembunyikan penyakitku darinya. Tangis tak henti hentinya keluar dari dua bola mataku. Perih kehilangan terasa mencambuk hatiku. Sementara Umi Zahra memelukku. Umi Zahra kini sendiri, suami dan anak tercintanya telah meninggalkan dirinya. Betapa sedih batin Umi Zahra. 
            Ketika lantunan doa tengah kuuntai untuk-Nya. Mendoakan Reza agar mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Karena Reza patut mendapatkan tempat yang indah. Tak pernah kupikirkan bagaimana nasibku jika tak bertemu dengan Reza.
            Ah, aku lupa. Masih ada satu hal yang masih harus kuperbaiki sebelum aku dipanggil oleh-Nya juga. Waktuku juga sepertinya tak banyak. Mungkin sebentar lagi aku akan menemani Reza. Tapi aku harus merubah Kira. Kira mungkin satu satunya alasan kenapa aku masih diberi waktu.
                                                                        ****
                                                                        ****
                                                                        ****
            Tulisan ini akan kulanjutkan. Aku bukan Kara. Kini tulisan ini akan kuselesaikan. Karena ini adalah permintaan terakhir Kara.  Tak pernah kubayangkan, bahwa selama ini aku telah meninggalkannya sebegitu kejamnya di temani kesendirian. Tapi berkatnyalah mataku sepenuhya terbuka. Tubuhku kembali hanya menjadi milikku dan milik-Nya. Bukan lagi di pengaruhi barang “haram” yang entah kenapa aku bisa berjumpa dengannya.
            Mungkin ceritaku ini hanya selingan belaka. Tapi biarlah kugenapkan sekalian agar hatiku lega. Aku sangat terkejut meilhat catatan singkat ini yang selama ini diam diam telah di tulis oleh Kara. Mengungkapkan kesepiannya yang begitu dalam. Dan aku tidak ada disana untuk menemaninya. Sungguh aku merasa bersalah dan tak berarti apa apa. Saudara macam apa aku ini. Yang tega membuat dia menjadi seperti itu. Di kacau balaukan hidupnya dengan masalah masalah yang kubuat. Tak pernah kutahu bagaimana dia bisa memiliki hati sesabar itu.
            Aku bersyukur dan terus berdoa untuk Kara. Sebelum kematiannya dia sempat mengenalkan aku denga Umi Zahra. Jadilah aku kembali ke jalan yang benar. Menjauhi benda terkutuk yang dulu pernah menjadi pelarianku. Berat, sangat berat. Tapi setelah melewatinya kini aku sepenuhnya merdeka dari jeratan maut barang terkutuk itu.
            Dua bulan yang lalu adalah hari kematian Kara yang benar bnear mengguncang jiwaku. Tapi beruntungnya aku telah dikenalkan dengan Umi Zahra. Yang kurasakan menjadi pengganti mama dihatiku. Sementara papa yang tahu kedekatanku dengan Umi Zahra juga mendekati Umi Zahra. Ingin menemukan kesejukan yang sama seperti yang ditemukanku dan Kara.
            Kara tersenyumlah kau disana. Kini aku benar benar memanggil Umi Zahra sebagai seoranng anak kepada Ibunya. Ya, ayah telah menikah dengan Umi Zahra dua hari yang lalu. Rasa bahagia tengah melingkupi kami semua. Berpikir optimis adalah pengetahuan penting yang kukenal. Aku tahu dengan baik makna kata itu setelah  banyak kejadian terlewati dalam hidup yang begitu singkat baru kujalani.
            Inilah ending terbaik yang kupilihkan untuk menyelesaikan tulisan yang Kara tulis setulus hati. Semoga  segala yang terjadi dan semua yang Kara perjuangkan tak hanya akan menjadi mimpi sekejap saja. Karena aku merasakan kebahagiaan yang tak hanya semu. Ketika ayah membaca tulisan Kara ini ia menangis. Umi Zahra pun begitu.

             Aku  berharap doa yang diuntai dengan segala ketulusan dan keikhlasan membawa surga bagi pemiliknya. Semoga Kara mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Karena dia sangat pantas mendapatkannya.

                                                                        ****
             

           

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images