Jendela Kelabu

March 04, 2011

Tanganku menyentuh jendela lekat. Terasa dingin dan aneh. Mungkin karena hujan, dan air melewati jendelaku menjadi titik titik embun didekat debu. Mataku mengikuti air yang tengah turun dan melewati tanganku dibaliknya. Dingin. Kembali kulihat jauh dilangit luar sana. Jendelaku adalah hidupku. Hanya jendela saja yang selama ini kulihat. Jauh diluar sana hanya ada tembok tinggi. Kadang kala ada kucing melewatinya. Dan aku akan tertawa jika ada kucing lain tengah berebut tulang ikan. Itulah yang kutahu. Ah, tidak hanya itu. Aku lupa.

Di sana, di seberang tempat tidur kecilku. Ada tv disana. Jendela hidupku yang lain. Sebut saja seperti itu. Banyak yang aku tahu dari sana. Ada kartun tom & jerry yang selalu kutonton setiap siang. Tiap pagi juga, aku selalu disana menonton spongebob yang lucu. Film ftv yang selalu kutonton saat sore. Atau kadang melihat jelajah alam. Yang mengingatkanku dulu. Waktu yang telah lama. Membuatku kembali merindu. Menjejak di atas tanah basah dan senyum dibawah hujan deras. Mungkin aku rela mati untuk melakukannya sekali lagi.
”Ica,” suara lembut memanggilku.
”Iya?”
”Makanan sudah siap, mau makan dikamar atau di ruang makan?” tanyanya.
”Ruang makan,” jawabku cepat. Aku muak dengan bau kamarku sendiri. Dimataku hanya terlihat seperti tempat isolir yang lebih kejam daripada penjara. Makanan terasa semakin aneh di lidahku. Aku tidak tahu kenapa. Apa makanannya yang berubah? Atau lidahku?
”Ica, setelah ini langsung tidur aja yah,” ucap Ibu. Aku mengangguk. Wajahnya takut tertekuk dan tak berani lagi memandangku. Aku tahu. Ia pasti merasa sedih melihatku. Aku tahu, ia sangat bersalah terhadap kondisiku. Dan aku tahu, aku harus memendam amarahku.
Hanya berselang beberapa puluh menit, aku kembali kekamarku. Kunyalakan tv disana. Sedangkan mataku akan panas dan ingin menangis jika mulai berangan angan. Kenapa aku tidak seperti mereka? Yang tengah hidup di luar sana. Bermain diatas drama hidup mereka. Mungkin bersenang senang di atas kursi sekolah memakai seragam putih biru yang tidak sempat aku rasakan. Sekali lagi aku menahan,  aku tidak boleh menangis.
Aku bosan, dan mulai merebah lagi di atas kasur. Di atas kasur tengah berjejer fotoku, ternyum. Cantik sekali. Membuatku ingin mencoba tersenyun seperti itu lagi. Aku berlari ke kaca. Mencoba menarik dua sudut di sisi kedua pipiku. Tidak berguna, ekspresiku tengah mati. Sudah menjadi mayat.
Putaran memori yang lama entah kenapa melayang dikepalaku. Membiarkan aku marah terhadap kenyataan yang seharusnya tidak aku terima.

5 tahun yang lalu.
”Ica, ayo main keluar!” teriak teman teman komplek. Mereka beramai ramai tengah bermandikan lumpur dan diguyur hujan deras. Aku menoleh ke Ibu. Meminta izin agar bisa bergabung dengan mereka. Wajahnya khawatir kemudian berubah dan menghela nafas. Seperti berat hati.
”Pergilah,” ucapnya. Kakiku langsung bergerak cepat , sandal kutinggal. Tanah akan terasa lebih lembut dibandingkan yang lainnya. Aku senang, sangat senang. Air terasa segar. Kami bermain, entah sepak bola ataupun hanya bermain air diatas kubangan. Semua terasa begitu menyenangkan. Tapi aku ingat dengan jelas wajah Ibu yang mengijinkan dengan terpaksa. Itu semua agar rahasia tak penah terungkap.
Mataku berkunang kunang. Aku tidak ingat apa apa. Kenapa langit begitu dekat dan apa hujan sudah berhenti? Tapi bajuku tidak dingin. Hangat ternyata.
”Ica?!” teriak suara yang kukenal.
”Ica dimana ma?” tanyaku pelan.
“Rumah sakit sayang,” jawabnya pelan juga mengimbangi suaraku.
Aku lemah, dan mulai tertidur lagi. Dan esoknya  hariku di tirai kelabu di mulai.
                                                            ***
Suara piring pecah terdengar keras. Mengisyaratkan kemarahanku, kekecewaanku. Aku masih sepuluh tahun memang. Aku tak tahu apa apa. Tapi apa saja yang membuatku tidak bisa bermain maka aku harus marah.
”Kenapa Ica nggak boleh main?!” teriakku keras. Ibu didepanku hanya menutup wajahnya tidak berani menatap mataku. Ibu tak punya kata kata.
”Ini salah ibu, ca, salah ibu,” teriaknya sedih. Parau diiringi tangis membuatku tidak tega. Apa aku anak yang jahat? Aku merasa bersalah. Kudekati dirinya. Dijelskannya satu persatu masa lalunya.
”Harusnya Ibu, ibu yang hanya merasakannya bukan kamu” rintihnya. Aku tidak mengerti.
”Apa maksud Ibu?” tanyaku kini tak lagi marah.
”Tubuh ini, telah rusak nak. Jauh sebelum kau lahir. Sudah rusak,” rintihnya semakin sedih. Suaranya seperti tertelan tangis.
”Disini, didalam tubuh ibu yang sudah rusak karena penyakit. Karena keslahan ibu,” aku bingung. Penyakit?
”Yang tidak bisa sembuh, yang kemudian menurun ke kamu sayang. Yang merusak tubuhmu juga.” aku terpaku. Sakit? Bukankah aku tidak pernah sakit kecuali pilek. Pilek yang aku rasakan sejak hujan hujanan kemarin.
”Ica, selalu sehat bu, nggak pernah sakit,” jawabku polos. Tapi tangannya menutup wajah lebih dalam.
”Ini semua salah ibu, salah ibu,” tuturnya dan membelai rambutku.

Sekarang,
Waktu membentuk semua cerita kabur dipikiran kekanakanku. Sejak saat itu aku tidak lagi sekolah. Tidak lagi bertemu teman temanku. Sedangkan semua cerita kabur menjelas dengan cepat seiring hilangnya banyak hal dalam hidupku. Angin, hujan, matahari, debu, tanah, lumpur, keramaian, teman temanku, makanan kesukaanku, kesehatanku. Pilek setelah hujan hujanan itu sembuh setelah hampir setengah tahun lebih sebulan. Memberitahuku arti dari izin berat hati yang diberi Ibu. Sekarang   aku sendiri, terkunci di penjara lembab dengan selimut di dalamnya. Terkurung dalam hening. Terkunci oleh penyakit ini. HIV yang baru setahun setelah kejadian itu aku menyadarinya.
Ada dendam sedikit di hatiku. Kenapa aku harus disini? Bukankah yang salah Ibu? Bukankah aku tengah dipermainkan masa lalu Ibu? Yang menjadi bayangan nyata dalam kehidupanku.
Jahat!
Kadang aku ingin berteriak di wajahnya. Mencaci dirinya. Yang karena dia. Tak lagi aku bisa menikmati dunia. Tidak lagi, sama sekali.
Sudah lama aku memikirkan ini. Mencoba mengiris nadi yang ada di dibawah kulit tipis ini. Apa artinya hidupku kini? Jika hanya duduk di atas dipan empuk. Menanti nanti waktu yang entah dekat atau tidak menjemput. Bukankah sama? Aku seperti kerang kosong yang dibiarkan hidup? Meski ragaku terasa hangat akan nadi dan detak jantung. Tapi jiwaku sudah lama tenggelam. Hilang ditelan kesepian.
Tahukah kalian? Batas antara sadar dengan tidak? Tahukah betapa hati ini kian tidak lagi memiliki kesadaran. Yang kian lama dimakan dendam dan keputus asaan. Dikala malam kadang tertawa miris, di pagi hari kadang termenung sendu. Aku tidak tahu lagi siapa diriku. Hingga banyak angan yang tak lagi logis. Hanya angan bercamur amarah. Yang ingin menuntaskan segala rasa kesal. Mencari mangsa dalam gelap, sebagai pelampiasan. Dan aku mungkin mulai gila.
Satu persatu kebiasaan aneh mulai muncul di setiap hari kelabuku. Menjadi barisan hitam yang panjang memenuhi pikiranku. Memikirkan ini itu. Yang tak kusadari mulai kehilangan arah. Ada hasrat untuk melampiaskan semua kesal ketika aku melihat wajah ibuku. Aku tahu ia sama halnya denganku. Tapi ini tidak adil, dia sempat bersenang senang di dunia. Hingga akhirnya aku seperti ini. Mengais kisah yang entah kapan bisa kudapat lagi.
Malam ini, dalam gulita mimpi merasuk. Menyisip di dalam tidurku. Seperti putaran video yang amat tak ingin kusaksikan. Kau tahu apa?
Aku membunuh ibuku.
Esoknya aku diam, bukan kalut. Tapi berpikir dan tertarik. Tanganku gatal mencobanya. Mungkin tidak seburuk itu rasanya. Mungkin segala kesal yang menumpuk dalam hatiku akan hilang berbekas. Dan aku mungkin, akan bebas dari bayangnan masa lalunya.
Satu pertanyaan berulang di benakku. Tak kau coba kah? Hanya itu, berputar putar seperti kaset yang tengah rusak. Membuatku kepalaku pening. Didorong amarah, dan dihentikan rasa penyesalan yang akan datang. Mereka bertarung berhimpit. Menjerumuskan salah satu. Membuat aku lebih bingung. Dan pertanyaan berlanjut menjadi serangan. Mari, kta coba!
Aku mulai gila. Itu yang ditangkap kesadaranku. Aku bersyukur mereka masih berfungsi baik ketimbang jiwaku yang sudah tidak bisa aku andalkan lagi. Jauh di dalam kesadaran hati kecilku bergumam. Aku akan kalah.
Malam itu hujan deras. Suara hujan deras dan suasana dingin semakin memberi kesan mirip dengan mimpiku. Cepat lakukan! Kali ini terdengar lebih jelas. Dan, kaki melangkah. Pertahananku goyah, aku kalah.
Seperti video yang dicepatkan. Semua terasa seperti kilat. Tidak mengenal menit hanya detik. Aku sudah dihadapannya, dengan seram siap menghujam dengan cutter. Ibu kaget dan menamparku. Mataku berputar kemudian gelap.
”Ica,” terdengar suara Ibu memanggilku. Kubuka mataku dan membiasakan dengan cahaya. Silau.
”ibu?” disana Ibuku menangis. Menggenggam erat tanganku. Hangat.
”Ica? Kenapa ica?” suaranya bergetar. Pastilah tentang malam tadi. Aku menutup wajahku. Ah, tolol. Kenapa juga aku gagal!
”Ica? Ibu memang salah! Ibu nggak pantes jadi Ibu! Nggak pantes!” teriak Ibu kacau. Kemudian melepas genggamannya. Lambat laun dingin. Ah, aku tahu, dan aku menyesal. Dan aku sadar.
”Maafkan Ica, ma,” kali ini ganti terdengar suara parau dari mulutku. Dijawab dengan pelukannya. Erat dan kembali hangat. Kalau Ibu tidak ada. Maka aku akan kehilangan satu satunya yang ada. Hangat ini. Akan hilang juga.
Esoknya aku kembali. Menonton ftv sore dengan berangan dan menangis. Kembali menatap kucing di tembok yang terlihat dari jendela tengah mengeong. Mungkin aku bosan. Mungkin aku telah kehilangan banyak. Tapi jauh di dalam hatiku. Aku tahu sejak lama. Bahwa aku hanya punya kehangatan Ibu

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images