Bukan Hanya Satu Wajah

March 19, 2011

Bukan Hanya Satu Wajah
Improve from Klenting Kuning’s Story

Daun-daun bersuara serak memadu malam yang gelap menjadi ramai dengan derak alam. Saat itulah angin mengabari padanya. Telah hilang wanita yang bertahta mahkota yang menjadi satu satunya cinta milik seorang pangeran. Malam kembali mengiris sedikit waktu agar matahari tak lama sembunyikan dirinya. Cerita di mulai dari angin.......
          Sudah dua malam ini angin begitu ganas menerpa tanah. Daun-daun muda yang baru menghirup cahaya matahari seperkian detik telah di takdirkan gugur. Memberi keindahan di polosnya ganas angin. Sepasang mata yang sedari tadi selalu mengikuti angin itu menemukan seseorang terombang ambing dalam hiruk pikuk malam. Ia pun menunggu dengan sabar agar angin tak menggerus tubuhnya juga. Tapi  malam tak kasih satu kesempatan pun pada dirinya untuk menolong tubuh yang semakin hilang dan kabur dalam gelap itu. Mata itu menatap langit dan mungucap do’a untuk keselamatannya.
                                               * * * * * * * * *
          Dumala memandang latar yang tak lagi rapi seperti kemarin. Semua hancur terkoyak kejamnya angin pada bumi. “ Untung anakku tak melihat ini semua ,” pikirnya. Setelah beberapa menit terdiam, pikirannya melayang kepada sosok yang kemarin telah membuatnya terenyuh untuk mendo’akannya. Matanya  berputar mencari hal yang tak biasa yang ada di sekitarnya. Kemudian matanya terhenti tepat di balik semak-semak belukar yang tajam. Terpapar sesook wanita putih yang cantiknya tak bisa terkira. Tapi darah mengalir dari luka dikakinya tergores tajamnya belukar. Dumala tak tega memandangnya, ia memapah perempuan itu. “ Jika ini adalah anakku yang menghilang sungguh miris hatiku melihat keadaannya kini?”
          Tapi, Dumala berhenti. Kepalanya berpikir macam-macam. “Apa yang  akan aku llakukan padanya?” Dan hanya ada satu, sungguh Dumala tidak ingin mengambil keputusan seperti ini. Tapi hanya inilah yang bisa dilakukannya. Demi anak-anaknya juga.
                                                * * * * * * * * *
          “Klenting kuning!!!!!” Teriak Klenting Merah.
          Klenting Kuning yang hendak pergi ke hutan segera berlari kembali ke dalam rumahnya. Keringatnya yang mengalir deras membuatnya terlihat legam. Tapi dia tetap berlari.
          “Iya, Kak,” jawab Klenting Kuning.
          Bukan petir yanng menyambar desa hanya suara mengelegar Bureg, dia adalah sumber informasi di desa ini. Dan suara itu menyelamatkan Klenting Kuning dari iamukan kakaknya. Klenting Kuning pun menjauh dari Kakaknya yang sibuk mendengar berita yang dibawakan Bureg.  Sedikit penasaran juga, Klenting Kuning pun mendengar sembunyi-sembunyi.
          “Ah, Begitukah? Pria tertampan di Desa Dadapan mencari istri?” Teriak kedua kakaknya.
          Terjawab sudah rasa penasaran Klenting Kuning. Ia tak tertarik sama sekali dengan hal itu. Semua itu sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya. Ia pun segera kembali ke hutan. Mencoba menyegarkan kepenatan yang telah menumpuk di dalam pikirannya. Ia akan bahagia jika ia mendengar nyanyian hutan. Entah mengapa gesekan daun saja sudah menjadi suara ninabobo
untuknya. Di pinggir sungai bercampur dengar desir suara gemericik air beradu. Ia pun terlelap hingga angin menderu membuka matanya yang hendak terpejam. Ketika ia mencoba pergi terdengar suara memanggil dari dalam aliran sungai. Ia pun mendongak, mencari asal suara
tersebut. Sadarlah ia ada bayangan dirinya terpantul dengan jelas di sana. Klenting Kuning pun mendekatinya.
          “  Aku! Ini aku! kemarilah!”
          Disana bayangannya berbicara. Tapi ada yang berbeda dengan gaya bicaranya. Klenting Kuning mengerutkan Keningnya.
          “Kau? Akukah?” Tanya Klenting Kuning.
          Bayangan itu mengangguk.
          “Aku adalah ingatanmu yang tertinggal di dalam hutan ini ketika kau terombang-ambing amukan angin. Aku ingin kau mengingat ini semua,” kata bayangan Klenting Kuning.
          Klenting Kuning bingung. Tidak tahu maksud dari perkataan bayangannya sendiri. Kemudian mendekati air semakin penasaran.
          “ Aku adalah bayanganmu. Aku memantulkan dirimu. hanya saja aku juga menyimpan potongan ingatanmu yang hilang tapi bagaimana aku bisa menyatukannya?” bayangan Klenting Kuning diam berpikir.
          “ Apa tak ada yang bisa kulakukan?” Kata Klenting Kuning yang tiba-tiba disambut oleh angin dengan amukan yang sedikit kasar. Mata Klenting tak kuat untuk tetap melihat sekitarnya. Tiba-tiba saja dirinya seperti pernah merasakan hal yang sama persis sebelumnya.   Otaknya berputar, ingatannya berhamburan. Seperti tumpah ruah dari wadah yang tak mampu menampung. Semuanya berputar dan ingatannya kembali menyatu satu persatu.  Seiring tenangnya angin, semua memori terputar kembali. Hanya satu yang tak akan pernah diingatnya.
                                      * * * * * * * * * * *
          Sedari tadi Dumala hanya menyaksikan dari jauh hal yang dialami Klenting Kuning. Ia hanya bisa mengamati tanpa bertanya. Selama ini, setelah dia menemukan Klenting Kuning. Dia menjadi Dumala yang berkepribadian ganda. Itu semua dilakukannya demi anak-anaknya. Klenting Merah dan Klenting Biru sama sekali tak tahu. Semua terjadi begitu saja hingga gambaran Dumala di mata Klenting Kuning hanyalah Ibu yang pilih kasih terhadapa anaknya.
          Dumala hanya bisa menerima takdir yang dienyamnya. Hanya bisa berikan hidup dengan cerita ini. Hingga sekarang dia akan tahu siapa sebenarnya anak yang ditemukannya itu . Mungkin inilah kali pertama suatu hal aneh terjadi pada diri Klenting Kuning. Dumala menganggap takdir akan membawanya menjawab segala pertanyaan yag tersimpan di ujung lidahnya.
                                      * * * * * * * * * * *
          Malam tak berujung hadirkan mimpi di dalam tidur Dumala. Bukan mimpi biasa yang dianggap kembang tidur. Karena saat itulah dimana perasaan sesama Ibu bertemu.
          “ Dumala....,” sapa seorang perempuan dengan rambut bergerai indah yang llangsung mengigatkannya pada Klenting Kuning. Dumala hanya menatapnya.   
          “ Kau? Kau Ibu kandung Klenting Kuning?” tanya Dumala.
          “ Yah, akulah ibunya. Dialah anak yang lahir dari rahimku. Anak yang kau beri nama Klenting Kuning itu. Tak usah kau tahu siapa aku. Cukup kau tahu bahwa aku adalah Ibu kandung dari Klenting Kuning. Apa aku bisa berharap padamu?” Tanyanya.
          “ Kau ingin aku melakukan apa?” Jawab Dumala.
           Wanita itu tersenyum.
          “ Hanya ingin biarkan dia gapai takdir yang membawanya. Bolehkah?”
          “ kau adalah Ibu kandungnya. Untuk apa kau pertanyakan hal seperti itu kepadaku?” Jawab Dumala.
          “ Kau menyayanginya sama sepertiku. Hanya dengan cara yang berbeda. Aku sangat bersyukur anakku dapat tumbuh menjadi seorang wanita tegar,” Wajah wanita iitu tersenyum meneduhkan.
“ Kita akan selalu bertaut hati karena kau telah menjaga anakku,” jawab wanita iitu kemudian lenyap tanpa jejak.
                                      * * * * * * * * * * * * * *
          Sudah dua hari ini semua anakku pergi. Mereka mengatakan akan hadir dan mencoba sebagai istri pria tertampan di desa Dadapan. Aku hanya berharap yang terbaik kepada seluruh anakku. Tapi aku sudah memiliki firasat bahwa inilah yang namanya jalur takdir yang membawa Klenting Kuning menuju jati diri yang selama ini tidak ada satupun yang tahu. Aku, biarlah menjadi kenangan buruk dimatanya sebagai Ibu yang tidak menyayangi anaknya.
          Sosok bulan terangi malam Dumala yang dingin dan sendiri. Bukan hanya menemani tapi memantulkan perasaan yang di sembunyikan dalam-dalam pada tirai hatinya. Kapan jawaban hinggap dan singkap tirai hatinya?
                                      * * * * * * * * * * * * *
          “ Aku adalah Pangeran Panji Anukertapati dan dia yang kalian sebut Klenting Kuning adalah  tunanganku. Dia adalah tunangan yang selama ini kucari. Yang selama iini lenyap dari pelukanku. Yang sejak itu hariku kosong tanpa warna yang dapat membelai malamku yang dingin. Yah...... Dialah Dewi Candra Kirana,” kata Pangeran Panji. Klenting Merah dan Biru terkaget-kaget dengan kenyataan itu. Klenting Kuning yang mereka anggap sebagai pembantu itu. Tapi yang ada hanyalah jawaban Klenting Kuning,
          “ Yah.... tubuhku termainkan angin yang saat itu tak tenang dan menghilangkan beberapa mata rantai ingatanku. Tetapi semua itu telah kembali. Terkecuali bagaimana aku bisa sampai menjadi anak dari ibu kalian. Itulah pertanyaanku. Yah...... ibuku juga.”
          Hari seperti keinginan ibu kandung Klenting Kuning, ia telah mendapati jalur takdirnya. Kini hanya Dumalalah yang belum mendapatkan jawaban. Hanya dirinyalah yang belum dihadapi kenyataan tersebut.
                                      * * * * * * * * * * * * * *
          Sudah beberapa lama menunggu, hingga matahari telah menemui barat. Dumala hanya terduduk menanti berita yang akan sampai ditelinganya. Terdengar langkah mendekat dan pintu yang sedari tadi tertutup rapat terbuka. Di sana sosok wanita putih yang sama cantiknya ketika dia selamatkan dulu berdiri dihadapannya. Mata dumala hanya terpaku, kemudian mengikuti bayangan dibelakang Klenting Kuning. Bayangan llelaki tampan.
          “ Kau Klenting Kuning, apa yang membawamu kembali? Sudah kau dapatkan lelaki tertampan. Apa lagi yang kau harap dari wanita yang sudah tak lagi muda ini?” Kata Dumala.
          “ Ibu, kau adalah ibuku. Aku kemari meberitahukan kenyataan bahwa diriku adalah Dewi Candra Kirana. Dan lelaki ini adalah Pangeran Panji Anukertapati tunanganku yang selama ini mencari keberadaanku yang lenyap,” jawab Klenting Kuning.
          Air mata menetes dari pelupuk Dumala.
“ Kau, kau menganggapku seorang ibu dengan tulus. Sungguh, padahal aku telah berbuat jahat padamu. Padahal aku tak memiiki darah yang sama denganmu,” kata Dumala.
          “ Tak ada sama sekali sikap ibu yang kuartikan jahat. Meski tubuh ini hadir bukan dari rahimmu. Kaulah yang menyelamatkanku dari kecelakaan yang menimpaku. Membiarkan aku menikmati hidup lagi. Itu adalah kasih sayang yang sama sekali tak bisa kubalas. Hanya ini yang sanggup aku lakukan. Selalu menyayangimu sebagai iibuku,” jawab Klenting Kuning dengan mata yang sudah tak mampu lagi membendung tangis.
          “ Terima kasih anakku............. Wahai kau Pangeran Panji. Jagalah ia, sayangi dia, jangan biarkan dingin membelai tubuhnya yang hangat, jangan biarkan tubuhnya kuyu terkena terik matahari........ Ketika alam tahu kau telah gagal menjaganya. Maka angin akan mebawanya kepadaku lagi..... Dan aku tak tahu apa yang akan terjadi lagi....
          Angin berputar mengelilingi janji yang terbenam pada alam. Semua akan berhenti dan terulang kembali.
                            
                                      * * * * * * * * * * * * * *

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images